08 February 2013

Menikah Sesuatu yang Allah Sukai

Menikah Sesuatu yang Allah Sukai
Kapan Menikah? Jawablah Secepatnya.

Heran, bener bener heran. Bertanya kepada seorang rekan yang sudah mempunyai pacar selama 3 tahun tentang kapan ia akan menikah dan beliau bingung menjawabnya. Dengan nada penuh keraguan dia menjawab:
 
"2 tahun lagi mungkin. Ingin menjalaninya dulu, belum siap.."

Padahal pacarnya ada disampingnya dan sudah tahun ke 3 berpacaran, apalagi yang dia cari?

Disatu kesempatan yang sama, sayapun bertanya kepada rekan pengajian saya:

"Akhi, kapan antum menikah?.."

Beliau menjawab dengan penuh semangat dan keyakinan:

"Insya Allah akhi, secepatnya.."

Padahal saya tahu beliau belum mempunyai bahkan tidak mau berpacaran, dan saya-pun mendoakan-nya secara sepontan;

"Insya Allah. Allah akan memudahkan antum, akh.."

Saya balik bertanya:

"Kenapa antum yakin banget?"

Beliau menjawab:

"Saya paling senang ditanya kapan akan menikah, maka saya selalu menjawab secepatnya, walau saya belum mempunyai calon! Kenapa? Karena jawaban saya bisa berbuah doa dan mengundang doa. Menikah sesuatu yang Allah sukai dan setan benci.

Saya tidak ingin jawaban saya melemahkan saya, karena setan senantiasa dari segala arah akan meniupkan keraguan akan menikah dan membiarkan orang orang lalai dan hanyut dalam kemaksiatan cinta yang haram.."

Semoga bermanfaat dan menjadi sumber motivasi yang baik bagi kita semua.
(Inspirasi Islami)
readmore »»  



07 February 2013

Identitas Muslim Menjaga Shalat

Identitas Muslim Menjaga Shalat
MENJAGA SHALAT 

Identitas muslim tidak terlepas dari amaliyah ibadah shalat, karena shalat merupakan ciri yang membedakan antara pribadi muslim dengan orang kafir.

Orang muslim yang Islamnya benar, pasti melakukan ibadah shalat penuh dengan kesungguhan dan kekhusyu’an seraya berjamaah.

Sedangkan bagi mereka yang Islamnya hanya pengakuan saja, shalat hanya sekedar lambang atau keinginan untuk mendapatkan pengakuan. Padahal, shalat bukanlah sekumpulan gerakan dan bacaan yang kosong dari makna dan tujuan, tetapi ia adalah ibadah yang mengandung arti yang dalam dan berisi pelajaran yang berharga.

Shalat adalah kunci diterima atau tidaknya semua amal manusia. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Amal yang pertama kali dihisab dari amalan seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya, maka jika shalatnya baik, berbahagialah dia, dan jika shalatnya rusak, rugilah dia dan sia-sialah usahanya.”
(HR. Thabrani)

Imam Ahmad dalam sebuah nasihat kepada putranya Abdullah pernah berkata; “Hai anakku, Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam telah menegaskan: “Tidak ada keberuntungan sama sekali dalam Islam untuk orang yang meninggalkan shalat.”

Lebih lanjut Iman Ahmad berkata, Umar bin Khaththab pernah mengirim surat peringatan kepada semua wali negeri (gubernur), di dalamnya beliau berkata: “Hai para wali, sesungguhnya tugas yang aku pandang paling penting adalah shalat. Maka barangsiapa memelihara shalat, niscaya dia telah memelihara agamanya.

Orang yang menyia-nyiakan shalat, maka ibadah lainnya pasti lebih dia sia-siakan. Tidak ada bagian apa-apa dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Karena itu, hai Abdullah, orang yang menyia-nyiakan shalat dan meremehkannya berarti ia menyia-nyiakan dan meremehkan Islam. Keberuntungan seorang hamba dalam Islam adalah menurut keberuntungan yang ia peroleh dalam shalat, kesenangan mereka kepada Islam, adalah menurut kesenangannya kepada shalat.”

Ingatlah akan dirimu hai Abdullah dan waspadalah, jangan sampai kamu menjumpai Allah dalam keadaan tidak menghargai Islam. Kadar penghargaan yang diberikan seseorang kepada Islam adalah sekedar harga shalat dalam jiwanya.”

Nasihat Imam Ahmad kepada anaknya di atas hakekatnya ditujukan kepada umat Islam umumnya. Bagaimana selaku orang beriman tidak menyia-nyiakan ibadah shalat yang juga sebagai ciri—rukun Islam—dari keberadaan kita sebagai muslim. Peringatan itu juga menunjukan begitu tingginya kedudukan shalat dalam syariat Islam, oleh karenanya tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak melaksanakan dan menjaganya dengan baik.

Di antara menjaga shalat yang baik adalah melaksanakannya secara khusyu’ dan berjama’ah.

Shalat yang Khusyu’

Menurut kebanyakan ulama yang dimaksud dengan khusyu’ adalah, “Menundukkan menenangkan hati serta anggota badan kepada Allah Suhanahu Wa Ta’ala.”

Jadi, shalat seseorang dapat dikatakan khusyu’ manakala selama shalat tersebut hati dan pikirannya senantiasa tertuju kepada Allah Ta’ala. Rasulullah Shalalahu Alaihi Wasallam bersabda: “Bahwasanya seorang hamba sungguh mengerjakan shalat, padahal tidak ditulis baginya kecuali setengahnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya sampai sepersepuluhnya. Sesungguhnya yang ditulis untuk seseorang dari shalatnya hanyalah sekedar yang dapat ia pahami dari padanya.” 
(HR. Ahmad dan Abu Daud dari Amar bin Yasir)

Adapun cara untuk mengkhusyu’kan shalat antara lain; Ihsan, yaitu merasa diawasi Allah yang Maha Kuasa. Memahami makna bacaan Qur’an dan dzikir-dzikir yang dibaca dan menghayati kandungannya. Memanjangkan ruku’ dan sujudnya. Muhammad Al-Bahry berkata, “Di antara pekerjaan yang menghasilkan khusyu’ adalah memanjangkan ruku’ dan sujudnya.”

Jangan memain-mainkan anggota badan. Hendaknya memandang ketempat sujud walaupun bermata buta atau shalat di samping Ka’bah. Berupaya menjauhkan diri dari segala hal yang membimbangkan hati. Karena itu jangan shalat di atas tikar atau sajadah yang bergambar dan jangan shalat sambil menahan buang air besar atau kecil.

Dengan upaya-upaya di atas, diharapkan shalat yang dilaksanakan lebih mendekatkan kepada kekusyu’an dalam shalat. Sehingga ibadah shalat yang dikerjakan minimal lima kali dalam sehari ini tidak menjadikan kita orang-orang merugi. 

Shalat Berjamaah

Begitu tinggi nilai yang Allah berikan kepada orang mukmin yang shalat dengan berjamaah, sehingga Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam pun bersabda: “Shalat berjama’ah itu lebih utama dari pada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” 
(HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra.)

Tak heran jika Islam sangat menuntut agar muslimin melaksanakan shalat bejamaah di setiap masjid. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” 
(QS. Al-Baqarah: 34)

Menurut catatan kaki “Al-Qur’an dan terjemahnya” Departemen Agama RI, yang dimaksud dengan kalimat “ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ adalah shalat berjamaah.

Pada ayat lain Allah berfirman, “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang yang mendapat petunjuk.” 
(QS. At-taubah: 18)

Dari kedua firman Allah di atas, bisa disimpulkan shalat berjama’ah itu wajib bagi setiap mukmin laki-laki, tidak ada keringanan untuk meninggalkannya kecuali ada udzur (yang dibenarkan dalam agama).

Hadis-hadis yang merupakan dalil tentang hukum ini sangat banyak, di antaranya:
Hadis shahih dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, “Telah datang kepada Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam seorang lelaki buta, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.’
Maka Rasulullah memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau (Rasulullah) memanggilnya, seraya berkata, ‘Apakah engkau mendengar suara adzan (panggilan) shalat?’, ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu)’”. 
(HR. Muslim)

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa pergi ke masjid baik pagi atau sore hari, maka Allah akan menyediakan satu tempat tingal di surga setiap kali dia pergi.” 
(Muttafaq Alaih)

Ibnu Mas’ud berkata: “Barangsiapa ingin berjumpa dengan Allah sebagai seorang muslim, hendaklah benar-benar menjaga shalat pada waktunya ketika mendengar suara adzan. Sesungguhnya Allah telah menganjurkan kepada Nabimu langkah-langkah untuk mendapatkan kebaikan yaitu, shalat berjama’ah di masjid yang diserukan adzan di dalamnya. Seandainya kamu shalat di rumahmu…maka berarti kamu telah meninggalkan sunnah Nabimu. Jika kamu meninggalkan sunnah Nabimu, maka sesatlah kamu.”

Ali bin Abi Thalib ra. berkata: “Barangsiapa dari tetangga masjid mendengar seruan adzan lalu dia tidak memenuhinya sedang dia dalam keadaan sehat, tidak ada udzur (halangan), maka tidak ada shalat baginya.”
Diriwayatkan, suatu saat Khalifah Umar bin Khathab mendapati beberapa kelompok yang tidak shalat berjamaah. Maka beliau bertanya: “Apa sebabnya orang-orang itu tidak datang? Hendaknya mereka datang ke masjid atau saya kirimkan kepada mereka orang-orang yang akan menebas batang leher mereka.” Kemudian Umar berseru dengan suara yang lantang, “Datanglah ke shalat jamaah, datanglah ke shalat jamaah, datanglah ke shalat jamaah!”

Ibnu Abas berkata: “Barangsiapa mendengar seseorang yang adzan, dan tidak memenuhinya, maka jelas orang itu tidak dikehendaki Allah menjadi orang baik dan tidak pula menghendaki adanya kebaikan untuk dirinya.”

Demikianlah firman Allah, hadis Nabi dan komentar para tokoh sahabat tentang pentingnya shalat berjamaah di masjid. Sedangkan ulama sesudah mereka, khususnya para imam-imam madzhab walaupun berbeda pendapat dalam menentukan hukumnya, namun mereka bersepakat meninggalkan shalat berjamaah tanpa ada udzur adalah perbuatan yang sangat tercela. Para ulama madzhab Hanafi dan Maliki bahkan menetapkan bahwa meninggalkan shalat berjamaah adalah berdosa, walaupun mereka menghukuminya sebagai sunnah muakkad.

Adapun udzur yang di bolehkan untuk meniggalkan shalat berjamaah ialah: sakit atau bepergian. Mengerjakan hal yang sangat perlu, misalnya sangat lapar, perlu makan dahulu. Takut kehilangan harta, atau takut terhadap suatu gangguan, atau sedang sangat mengantuk. Takut akan gangguan hujan, Lumpur, banjir, angin topan, dan keadaan sangat gelap gulita.

Bila kita renungkan uraian di atas, ternyata shalat berjamaah harus dilaksanakan di masjid, yang suara adzan sampai pada rumahnya, kecuali jika ada udzur yang dibolehkan, maka barulah dilaksanakan di rumah, namun tidak bagi kaum muslimat. Bagi mereka, shalat di rumah lebih utama daripada shalat di masjid. Ini berdasarkan larangan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam kepada suami atau wali agar tidak menghalangi kaum muslimat mengikuti shalat berjamaah di masjid.

Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu menghalangi para wanita keluar ke masjid, sedang rumah-rumah mereka lebih baik baginya.” 
(HR. Abu Daud dari Ibnu Umar)

Dalam hadis lain “Jangan kamu menghalangi hamba-hamba Allah (para wanita) pergi ke masjid Allah. Dan hendaklah mereka keluar ke masjid dengan tanpa wewangian.” 
(HR. Abi Daud dari Abu Hurairah)

Terkait hal di atas, Prof. Dr. Hasbi Ash Shiddiqy setelah mengedepankan hadis-hadis tentang larangan “mencegah kaum wanita pergi ke masjid” dan hadis yang menerangkan “kaum wanita lebih utama shalat di masjid” berkomentar sebagai berikut;

“Apabila hadits-hadits dalam masalah ini dikumpulkan semuanya dan di artikan satu per satu condong kepada pendapat Ibnu Harun, yakni: ‘Bukanlah yang lebih utama bagi wanita shalat di rumahnya melainkan lebih utama bagi mereka shalat dengan berjamaah di masjid (dekat rumahnya).

Hadits yang menerangkan bahwa para wanita lebih baik shalat di rumahnya, tak ada yang terlepas catatan atau dipermasalahkan keshahihannya. Andaikata kita pandang shahih, maka dia berlawanan dengan hadis yang nyata-nyata keshahihannya dan perintah nabi sendiri supaya wanita pergi ke tanah lapang pada hari Ied.

Sekiranya para wanita lebih baik shalat di rumah, tentulah para wanita sahabat tidak bersusah payah keluar di malam hari dan di waktu pagi hari untuk shalat berjamaah bersama Nabi di masjid. Seluruh ahli ilmu menetapkan bahwa Nabi tidak pernah melarang para wanita menghadiri shalat berjamaah di masjid. Juga para Khulafaur Rasyyidin tidak pernah mengeluarkan larangan untuk itu.

Jika demikian, nyatalah bahwa perginya para wanita ke masjid adalah suatu “amalul ghoiri” suatu amal kebajikan dan kebaikan. Jika tidak, tentulah Nabi tidak akan membiarkan para wanita pergi ke masjid.”

readmore »»  



06 February 2013

Ada Apa Di Balik Perilaku Positif ?

perilaku positif
Ada Apa dibalik Perintah Berperilaku & Berpikir Positif 
(Menurut ISLAM & Penelitian Ilmiah)

Apa hubungan penelitian-penelitian ilmiah/medis kontemporer dengan ajaran Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lebih dari 1400 tahun yang lalu tentang perintah beliau kepada kita umat manusia agar selalu beribadah? Mari kita simak uraiannya berikut ini:
 
Sudut Pandang ISLAM
Baginda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lebih dari 1400 tahun yang lalu telah menyampaikan kepada kita umat manusia dalam berbagai firman Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui al-Quran & sabda beliau melalui al-Hadits terkait dengan "arti sehat" dipandang dari pengaruh pikiran dan perilaku positif manusia terhadap pengaktifan potensi-potensi positif gen-gen di dalam tubuh manusia. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah banyak memberikan kita petunjuk melalui penekanan kata-kata yang bermakna positif, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa"  
(QS al-Baqarah [2]:183)
"..Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."  
(QS al-Baqarah [2]:184)
“Tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya, dan pembersih badan (jasad) adalah puasa.” 
(HR Ibnu Majah)
“Allah Subhanahu wa Ta'ala , berfirman, “ Semua amal perbuatan Bani Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan karena itu Akulah yang langsung membalasnya.’ Puasa itu ibarat perisai. Pada saat puasa, janganlah engkau mengucapkan kata-kata kotor, tidak sopan, dan tidak enak didengar, dan atau mengajak berkelahi, hendaknya dikatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya aku sedang puasa.’”

Selanjutnya nabi bersabda, “Demi Allah yang diri Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau minyak kasturi (parfum). Dan bagi orang yang berpuasa tersedia dua kegembiraan, gembira ketika berbuka puasa dan gembira ketika kelak menemui Allah karena pahala puasanya.”  
(HR Bukhari, Muslim, Nasa’I, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah  adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.”   
(QS al Baqarah [2]: 261)

"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya & kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS al-Baqarah [2]:271)

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya."  
(QS Ali Imran [3]: 92)

“Ketika seorang hamba berada pada waktu pagi, dua malaikat akan turun kepadanya, lalu salah satu berkata, ‘Ya Allah, berilah pahala kepada orang yang menginfakkan hartanya.’ Kemudian malaikat yang satu berkata, ‘Ya Allah, binasakanlah orang-orang yang bakhil.”  
(HR Bukhari & Muslim)

"Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan dan seseorang yang selalu membiasakan pemberian maaf maka Allah akan menambah kemuliaan kepadanya dan tidaklah seseorang itu tawadhu (rendah hati) kecuali Allah akan mengangkat derajatnya."
(HR Muslim)

“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah”.
 (HR. Abu Dawud)

Sehingga dapat kita amati dengan seksama bahwa baik di dalam al-Quran maupun al-Hadits, perintah-perintah tersebut selalu mengandung suatu arti yang positif/baik bagi kita.

Sudut Pandang Ilmiah/Medis
Merasa bahagia secara mental dan fisik meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, sedangkan tidur sejenak selama 5 menit dalam posisi relaks akan memulihkan tenaga (power nap).

Ada beberapa contoh mengenai orang-orang yang secara menakjubkan dapat sembuh dari sakit parahnya setelah menetapkan pikiran mereka pada suatu tujuan. Ada berbagai contoh dari seluruh dunia saat orang-orang menderita kanker mengalami rasa syukur karena satu dan lain hal, dan begitu mulai mengalami perasaan itu, mereka pun mulai membaik.

Semua manusia memiliki potensi yang tak terbatas, tetapi potensi itu sering tersembunyi. Saat ada kesempatan bagi potensi itu untuk terpenuhi, enzim-enzim di dalam tubuh pun teraktivasi sehingga menciptakan energi dan bahkan sering membawa seseorang kembali dari keadaan sekarat.

Di pihak lain, betapapun sehatnya tubuh anda, jika anda hidup kesepian, selalu terfokus pada hal-hal yang negatif dan mengasihani diri sendiri, perlahan enzim dalam tubuh anda akan kehilangan kekuatannya.

Kuatnya keteguhan hati dapat membuka pintu menuju berbagai kemungkinan yang sepertinya tidak mungkin terjadi. Menyembuhkan kanker dengan cinta bukanlah suatu hal yang tak mungkin. Jika seseorang sungguh-sungguh percaya bahwa ia akan sembuh dan mengalami cinta sejati dari lubuk hatinya yang paling dalam, orang itu akan dapat mengatasi penyakitnya.

Tidak ada faktor motivasi yang lebih besar daripada cinta.
Cinta memiliki banyak bentuk-antara laki-laki dan perempuan, antara orang tua dan anak, antara rekan-rekan dan teman-teman, antara kita dan orang-orang yang membutuhkan. Apapun bentuknya, bahwa motivasi, kesehatan dan kebahagiaan, semua terlahir dari cinta. Kehidupan bahagia dipenuhi oleh cinta, dan tahap-tahap cinta berkembang dari menerima cinta, membangun cinta dengan orang lain dan memberikan cinta.

Pada saat seseorang merasa benar-benar bahagia, darah akan menunjukan sistem kekebalan yang sangat aktif. Oleh karena enzim pangkal meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, seseorang yang merasa bahagia akan memiliki banyak enzim pangkal.

Dr. Hiromi Shinya, MD sebagai Guru Besar Kedokteran Alber Einsten College of Medicine, USA pernah menyampaikan bahwa didalam tubuh manusia terdapat lima aliran :
1. aliran darah dan getah bening,
2. aliran pencernaan,
3. aliran urine,
4. aliran udara,
5. aliran tenaga dalam (chi).
Sangat penting dijaga agar kelima aliran ini tidak terganggu, dan satu hal yang menjaga agar kelima aliran ini tidak terhambat adalah olahraga.

Enema kopi, membersihkan usus besar dengan air yang mengandung kopi, ditambah mineral dan ekstrak yang menghasilkan laktobasilus, melalui dubur.

Ada lebih dari 5.000 enzim dalam tubuh manusia yang menghasilkan mungkin 25.000 reaksi yang berbeda. Dapat dikatakan bahwa setiap tindakan dalam tubuh manusia dikontrol oleh enzim, tetapi sangat sedikit yang kita ketahui tentang enzim.

Dorongan energi emosi positif yang muncul dari cinta, tawa, dan kebahagiaan dapat menjadikan DNA untuk memproduksi limpahan enzim pangkal, yaitu sang enzim ajaib yang beraksi sebagai bio-katalis untuk memperbaiki sel-sel.

Dalam rancangan alam, dimana ada entropi selalu ada sintropi, demikian pula sebaliknya. Entropi, proses seseorang atau sesuatu bergerak menuju kehancuran atau pembusukan. Proses yang membalikan laju entropi menuju perbaikan, regenerasi, dan kebangkitan disebut “sintropi”.

Setiap hari, tubuh manusia melakukan regerasi melalui metabolisme. Bahkan ketika jatuh sakit, kekuatan penyembuhan alami membantu kita sembuh. Ini semua adalah fungsi sintropi. Namun, agar sintropi tubuh kita berfungsi dengan normal, kita harus hidup sesuai dengan hukum alam.

Motivasi dan kebahagiaan adalah kekuatan mental yang mengubah entropi. Mulailah menghindari konsumsi makanan yang teroksidasi dan produk-produk susu, minum air yang baik, serta memusatkan perhatian pada perasaan bersyukur dan kebahagiaan setiap harinya, tubuh akan mulai bergeser dari keadaan entropi menjadi sintropi.

Kebiasaan baik, betapapun kecil pada awalnya, akan berdampak pada kesehatan. Konsumsilah makanan yang baik, kuasai gaya hidup yang baik, minumlah air yang baik, istirahatlah yang cukup, berolah ragalah secukupnya, serta jalani minat yang memotivasi anda, dan tanpa ragu lagi tubuh Anda akan bereaksi positif.

Kazuo Murakami, Ph.D (ahli genetika terkemuka dunia) peneliti & penulis buku "The Divine Message of the DNA, Tuhan dalam Gen Kita" menyampaikan bahwa ia menemukan keajaiban dari DNA yang tak sekedar kumpulan basa-basa purin yang membawa kode genetik makhluk hidup. 

Karakteristik genetik yang selama ini dianggap bersifat tetap dan niscaya, dalam penelitiannya Murakami memperkenalkan konsep on/off yang diatur oleh gen-gen. Dan ajaibnya tombol on/off gen ini sangat dipengaruhi oleh pikiran kita! Pikiran dapat mengaktifkan atau menonaktifkan gen-gen kita, ’you are what you think’.

Juga dipaparkan bahwa setiap manusia diberi porsi kemampuan yang sama. Hanya saja ada yang gennya dalam keadaan on sedang yang lain off. Dan kemauan yang keras disertai usaha dan pikiran positif  ternyata mampu meng-ON-kan gen positif kita yang tadinya dorman.

Kazuo Murakami juga menemukan bahwa kondisi on atau off-nya sebuah gen juga berpengaruh terhadap kesehatan. Hal ini dapat menjelaskan mengapa kanker paru-paru justru dapat mengenai mereka yang sama sekali bukan perokok, sedangkan yang perokok aktif justru tidak/belum terkena kanker paru. ini terkait dengan kondisi on/off gen yang mempengaruhi penyakit tersebut.

Karakteristik-karakteristik genetik yang diturunkan dari generasi ke generasi selama ini dianggap para ahli bersifat tetap tak berubah) dan niscaya. Namun, penelitian-penelitian mutakhir menunjukkan bahwa lingkungan dan faktor-faktor eksternal lainnya mengubah kerja gen-gen kita. Sudah banyak diketahui peran faktor-faktor fisik dan kimiawi, tetapi dalam buku ini, Kazuo Murakami menawarkan perspektif baru: apa yang kita pikirkan dapat mengaktifkan gen-gen positif dan menonaktifkan gen-gen negatif.

Apalagi bila dengan sengaja kita melatih hati dan pikiran kita dalam sebuah Tehnik seperti amalan sunnah berikut: Dzikir, Puasa, Sedekah dan yang lainnya. Maka potensi-potensi Positif yang selama ini tertidur di dalam Gen kita akan menjadi aktif.

Sepanjang penelitiannya, Murakami menemukan bahwa sifat kompleks dari DNA sebagai cetak biru makhluk hidup, bukanlah hal yang terjadi secara tiba-tiba, sebagaimana yang sering didengungkan para ilmuwan atheis lain. Murakami akhirnya mengakui bahwa ada ’sesuatu’ yang dahsyat dibalik penciptaan DNA ini. Dan dia menamakan sebagai ’Sesuatu Yang Agung' yang diluar kuasa manusia. 

Dengan kata lain, ada potensi manusia tersembunyi di dalam gen-gen diri kita ini. Karena kode genetik terbukti terlalu kompleks sehingga tak mungkin terbentuk secara acak, fakta ini membuktikan bahwa ada kekuatan yang lebih besar di alam semesta ini. Sehingga kemudian ia meyakini bahwa segala kehidupan datang dari sumber itu Sang Asal Mula. Semua sel memiliki bentuk yang serupa. Oleh karenanya, kehidupan dalam segala bentuk, manusia, hewan, tumbuhan, dan bahkan sel tunggal harus dihormati dan dihargai.

Kesimpulan
Dari penelitian Dr. Hiromi Shinya, MD dan Kazuo Murakami, Ph.D sudah cukup untuk dapat kita ambil kesimpulan bahwa segala hal yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui Rasul-Rasul-Nya dalam kehidupan umat manusia adalah demi untuk kebaikan umat manusia itu sendiri. Semakin banyak kita beribadah, semakin banyak pula perilaku beserta pikiran positif yang terbentuk dan tertanam dalam memori otak kita.

Maka akan semakin banyak pula potensi-potensi positif pada gen-gen yang awalnya 'tertidur' kemudian 'bangun' dan dari memori terjadi pemrograman yang kemudian akan menggerakkan seluruh syaraf pada otak. Dan syaraf akan mengendalikan tubuh untuk berbuat secara otomatis untuk meraih apa yang dicita-citakan. Disamping itu, gelombang pikiran otak akan selalu bergetar yang dihantarkan oleh gelombang elektromanetik yang akan memancarkan energi keseluruh alam. 

Getaran pikiran ini akan selalu memancar tanpa henti menembus tanpa halangan. Sehingga dengan mudah pikiran kita ditangkap oleh pikiran yang memancar pula dari pihak yang lain tanpa disadarinya. Dan terjadilah proses hukum alam saling bertemu dalam gelombang yang sama. Pikiran positif akan bertemu dengan pikiran positif, dan pikiran negatif akan bertemu dengan pikiran negatif. Inilah yang dimaksudkan dengan The Law Of Atraction.

Oleh karena itulah di dalam menjalani ibadah puasa, kita juga amat dianjurkan tuk memperbanyak dzikir, doa, sedekah dan berperilaku yang positif, sebab disamping pengaruh positifnya terhadap mental dan tubuh, pikiran serta perilaku positif juga akan menjadikan hubungan yang khusus dengan Sang Maha Pencipta.
Karena ketika sesesorang berdzikir/memanjatkan doanya, ruhaninya menembus tertuju kepada pusat energi yang paling tinggi, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dan dengan melakukan doa secara khusus dan penuh keyakinan, sesungguhnya ia sedang meraih energi Tuhan yang selalu terpancar kepada jiwa orang yang mendekati-Nya. Energi Tuhan hanya bisa turun kepada hati yang pasrah dan merendahkan diri. Kekuatan pasrah inilah yang kemudian akan menghasilkan kesehatan, intuisi dan kecerdasan spiritual yang luar biasa.

Maka seiring dengan mulai ditemukannya berbagai kajian ilmiah kontemporer pengaruh perilaku & berpikir positif terhadap kehidupan manusia, hal ini semakin meneguhkan kebenaran ajaran baginda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Sehingga keraguan apalagi yang melekat padamu wahai saudara-saudariku semua, bukankah temuan hasil penelitian para ilmuwan kontemporer terkemuka tersebut telah menjadikan keraguan kita sirna terhadap berbagai perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala tuk beribadah?

Kemudian setelah mengetahui berbagai argumentasi ilmiah/medis tersebut tadi, apakah kita semua juga telah menemukan jawaban atas hakikat dari firman Allah berikut?
"Katakanlah:` Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam."  
(QS. al-An'am [6]:162)

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat dan semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahi kita amalan-amalan ibadah yang selalu dicintai oleh-Nya. Karna hanya Allah yang memberi taufik. 
 
Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmat-Nya setiap kebaikan menjadi sempurna.

Diambil dari berbagai sumber
readmore »»  



Ingin Berubah Caranya Mulailah Dari Diri Sendiri

Ingin Berubah
Cara Berubah Itu Mulai Dari Diri Sendiri

Ya, ini kenyataanya, banyak yang ingin berubah, tetapi dia tidak pernah belajar cara berubah. Banyak orang yang ingin berubah dengan menuntut orang lain, pemerintah, kondisi, bahkan dunia, jika perlu, agar berubah mengikuti keinginan dia sendiri. Satu hal yang dia lupakan, padahal paling penting, dan yang paling mudah yaitu menuntut dirinya untuk berubah. 

Mengubah diri sendiri jauh lebih mudah, dibandingkan mengubah orang lain. Jangankan mengubah milyaran orang, jutaan, ribuan, ratusan, puluhan, bahkan satu orang pun susah. Namun Anda bisa mengubah diri Anda sendiri jika Anda mau.
Jika menyibukan diri untuk melakukan yang sulit atau tidak mungkin, yaitu mengubah dunia agar sesuai dengan keinginan Anda, maka hidup Anda bisa sia-sia.

Rahasia Sukses Sejati

Sebagai contoh, Anda ingin sukses dalam karir, kemudian berharap semua orang senang dengan pekerjaan Anda, berharap semua orang menghargai jerih payah Anda, dan semua orang mengakui kepemimpinan Anda. Bisakah? Tidak, Anda tidak bisa memaksa orang lain, karena mereka memiliki hak untuk bersikap.
Namun, akan lebih bijak, jika Anda mulai mengubah diri Anda sendiri.

Jika Anda berharap karir yang lebih baik, maka ubahlah diri Anda. Ubahlah cara Anda melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Ubahlah diri Anda agar menjadi pribadi yang lebih terampil. Ubahlah diri Anda agar menjadi orang yang memiliki jiwa kepemimpinan dan bertanggung jawab. Maka, sikap orang lain bisa berubah jika diawali perubahan Anda.

Begitu juga dalam bisnis. Anda tidak bisa memaksa semua orang menyukai produk atau jasa Anda. Namun Anda bisa mengubah produk atau jasa Anda serta cara melayani Anda sehingga disukai orang.
Inilah rahasia sukses sejati, yaitu kemauan mengubah diri dan mengetahui cara berubah mulai dari diri sendiri.

Inilah Cara Berubah Yang Sebenarnya

OK, akan saya bahas cara berubah langkah demi langkah. Cara berubah ini dijamin berhasil karena ini ajaran manusia paling agung sepanjang zaman, yang tidak akan berkurang kemuliaanya sedikit pun, meski seluruh makhluq menghinakannya. Beliau adalah baginda Rasulullah shaalallaahu wa alaihi wa sallam.
Tidaklah akan istiqomah iman seorang hamba sampai istiqomah hatinya, dan tidak akan istiqomah hatinya sampai istiqomah lisannya (H.R Ahmad, dihasankan oleh Syaikh al-Albany dalam Shahih at Targhib wat Tarhiib)

Apa pun tindakan Anda, akan berdasarkan keimanan Anda atau apa yang Anda percayai. Kualitas dan arah tindakan Anda tergantung kepercayan-kepercayaan yang Anda miliki. Sementara keberhasilan kita adalah buah dari tindakan. Jadi, jika ingin mengubah hasil, Anda harus mengubah tindakan-tindakan Anda, dan Anda bisa mengubah tindakan-tindakan Anda jika Anda mengubah iman atau kepercayaan Anda.

Hati Adalah Pusat Perubahan

Dalam hadits diatas dikatakan bahwa untuk  mengubah iman, maka kita harus mengubah hati kita. Jika hati kita baik, maka semuanya akan baik sebagaimana dijelaskan melalui hadits ini:
Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu bagaimana cara mengubah hati?

Lalu, bagaimana cara mengubah hati? Masih melalui hadits diatas, bahwa tidak akan sitiqomah hati jika lisannya tidak istiqomah. Artinya cara mengubah hati itu diantaranya adalah mengubah lidah kita. Misalnya membaca Al Quran, dzikr, dan berkata baik.

Cara mengubah hati dikenal dengan ilmu Tazkiyatun Nafs. Sudah banyak buku-buku yang ditulis para ulama tentang ini, termasuk yang ditulis oleh Imam Ghazali, Ibnul Qoyyim, dan berbagai buku yang ditulis ulang oleh ulama-ulama masa kini. Silahkan Anda cari, kemudian baca dan aplikasikan jika Anda peduli dengan hati Anda.

Aplikasi Dalam Meraih Sukses

Nah, sekarang bagaimana jika kita ingin meraih sukses baik dalam karir dan bisnis. Tentu saja dalam rangka meraih sukses di akhirat.

Banyak yang mengatakan, sukses itu yang penting kita mau bertindak. Ternyata tidak, sebab kita mengetahui bahwa tindakan dengan iman akan berbeda dibandingkan tindakan tanpa iman. Sama halnya untuk aspek kehidupan dunia, bahwa tindakan Anda akan tergantung pada kepercayaan Anda. Kepercayaan itu adalah dasar tindakan Anda.

Jika tindakan Anda ingin lebih bermutu dan memberikan hasil yang lebih baik, Anda harus memperkuat ketiga kepercayaan ini:
  1. Percaya bahwa Allah akan menolong Anda. Sehingga sebesar apa pun rintangan dan halangan Anda, Anda tidak akan takut dan gentar lagi, sebab Allah akan menolong. Kepercayaan ini akan membuat Anda lebih semangat, berani, dan pantang menyerah.
  2. Percaya pada diri sendiri (percaya diri). Percaya diri adalah buah dari keimanan bahwa Allah telah memberikan potensi yang dahsyat pada diri kita. Tugas selalu dengan bekalnya. Potensi kita (hati, akal, dan jasad) dipastikan sanggup untuk menghadapi setiap tantangan yang kita hadapi. Semakin Anda percaya diri, akan semakin hebat tindakan Anda, ibaratnya seperti Anda menggunakan gigi mobil yang lebih tinggi, sehingga melaju lebih cepat.
  3. Percaya pada tujuan yang akan kita raih. Percaya bahwa tujuan itu ada, percaya bahwa tujuan itu bisa kita raih, dan percaya bahwa peluang-peluang itu ada. Percaya bahwa jika orang lain bisa, maka Anda pun insya Allah akan bisa. Jika kita tidak bisa melihat tujuan Anda, ibarat Anda berada di sebuah tempat yang gelap, Anda tidak akan bisa meraih tujuan Anda bahkan tidak akan memiliki keinginan karena tujuan tidak terlihat.
Semakin tinggi ketiga kepercayaan ini, yakinlah bahwa tindakan Anda akan semakin dahsyat. Maka bentuklah hati Anda dengan kata-kata yang akan membangun 3 kepercayaan diatas. Istiqomahlah dalam mengatakan kata-kata yang akan memperkuat ketiga kepercayaan itu, bukan yang memperlemahnya. Kadang, banyak orang yang malah fokus untuk menghancur keyakinan dengan kata-katanya seperti mengeluh, menuntut, memaki, dan kata-kata kotor lainnya yang mengotori hari.

Bersihkan, perindah, dan perkuatlah kata-kata Anda agar hati Anda kuat dan bening, sehingga bisa memancarkan cahaya keimanan yang sangat kuat ke seluruh tubuh Anda, sehingga tindakan Anda pun akan menjadi semakin hebat.

Banyak Yang Ingin Berubah Tapi Sedikit Yang Belajar Cara Berubah
Cara berubah itu mulai dari diri sendiri, yaitu bagaimana Anda mengubah kata-kata Anda.
readmore »»  



 
 

Home | Sitemap | About | Contact Us | Privacy Policy